Sendiko Dat Nyeng

“Cepatlah ! Ambil bulan itu dari lipatan kardusnya sebelum ia bangun !”

Biadab !!! Sendiko Dat Nyeng terhenyak dari lelap. Memaki dengan telunjuk mengacung tajam di udara. Gerombolan lalat asyik berseliweran menghangatkan diri dengan bau keringat campur pesing. Kiranya ada beberapa ekor sempat mendengung saat Sendiko Dat Nyeng menguap gaya lembu.

Ia terus mengumpat dengan kalimat-kalimat suci, menurutnya. Raut muka penuh amarah dan dendam kesumat. Sebab siapa berani mengganggu tidurnya, harus menanggung akibat. Setidaknya potong lidah. Potong kuping. Gantung di Monas. Paling ringan, sedia di balsam kelaminnya.

Tapi siapa gerangan ? Siapa ? Yang ada hanya tubuh kusutnya dan gerombolan lalat seberapa jumlahnya itu. Menuduh gambar tikus di koran bekas juga tak mungkin. Itu cuma gambar tikus, yang meskipun berdasi, gambar tikus berdasi tetaplah tak bernyawa, tak berkehidupan. Ia masih paham betul, karena ia pun kerap atau bahkan hobi menggambar anjing. Itu tembok di sudut kota, kalau tak percaya, sudah berdesakan gambar anjing. Ya, tentulah mahakarya seorang Sendiko Dat Nyeng. Ada yang lidahnya menjulur panjang tidak biasa. Ada yang menyeringai, pincang, sangklir, dan macam-macam. Ya, sekenanya. Bahkan ada yang diantara gambar anjing-anjing itu seakan sedang berdiskusi. Dialog perpindahan ibu kota negara, misalnya. Sampai Trump yang cemberut melihat tingkah istri Sun Pipi dengan Perdana Menteri Kanada.

Lagi-lagi, Sendiko Dat Nyeng masih tak menemukan pengganggu itu. Digaruknya selangkangan yang tanpa disadari telah mengalir sumber mata air kusam. Dan, happ !!! Seekor lalat tanpa rasa hormat hinggap di bibir gelap Sendiko Dat Nyeng, riwayatnya tamat di usus Sendiko Dat Nyeng.

Gelap telah datang. Udara pengap. Dan Sendiko Dat Nyeng masih tak menemukan siapa yang mengambil bulan dari lipatan kardusnya. Ia kini tertunduk dengan kedua telapak tangan menggenggam masing masing lututnya.

Tanpa kata.

Iklan

Seringai Iblis dalam senyumanmu

Aku masih di sini

Meski dengan tanpa alamat
Diantara kelebat debu yang kian berdesak selimuti dahan dan daun menua

Dari bawah terik matahari, asap mengepul bau keringat

Keringat mereka yang jiwanya resah oleh cinta

Keringat mereka yang penuh ambisi, dan mereka yang tertindas

Diam-diam gerimis terharu diujung senja

Malam datang mengemasi sisa peradaban hari ini

juga tanpa perlu alamat

Sementara aku masih tak bergeming

Sebab ini hunianku

Tempat biasa aku bercumbu

Sampai pada akhirnya menggelinjang oleh angan yang barangkali juga akan menguap di udara

Udara yang dibawahnya aku terbiasa dan senantiasa melihat seringai iblis dalam senyumanmu

(Sendiko Dat Nyeng, Pacitan, 21072019)

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai